3 Reasons why I love coffee shop

I love coffee shop. Well, kenapa enggak? Coffee shop adalah tempat yang asyik buat ngumpul bareng teman-teman, ada wifi gratis, kopi nikmat, cemilan enak, tempat yang nyaman dan strategis. Bisa meeting, bisa ngumpul, atau hanya sekedar ngopi. Dan kini aku semakin bahagia, karena di Jogja coffee shop menjamur seperti fans K-pop, bertebaran dimana-mana, tinggal pilih sesuai selera.

Tapi selain alasan tersebut, ada tiga hal lain yang ngebikin aku nggak bisa lepas dari coffee shop.


Pertama, aku bisa lebih fokus melakukan sesuatu. Baca buku, stalking blog favorit, bikin fic, nulis blog, semuanya bisa dilakukan dengan lancar tanpa gangguan, pikiran nggak teralih. Coba bayangin, kamu duduk ngopi sendirian. Setelah kopi diseruput lalu apa yang kamu lakukan? Merhatiin orang sambil gigit kuku? Ha! nggak banget ya. Nah ini saatnya buku, tugas kuliah, notebook mengambil peran. Daripada nganggur mending ngerjain sesuatu. Coffee shop jadi tempat andalan-ku untuk menyelesaikan novel, nulis fic, ide buat blog, sampai ngerjain skripsi.

Kedua, coffe shop mengingatkan bahwa aku adalah bagian dari komunitas sosial, nggak bisa selamanya sendiri. Aku memang fangirl nerd, yang kadang lupa bahwa aku butuh hubungan sosial. Kalau dirumah minum kopi sambil duduk bersila di sofa, nulis sambil tiduran, baca sambil tiduran, ngetik sambil tiduran, ngemil sambil tiduran. Nah kalau di coffee shop aku duduk manis dong, punggung tegak, kaki silang. Menyeruput kopi dengan anggun, bersosialisasi dengan manusia lain, menjaga persahabatan. Buatku yang lebih suka sendiri, berada di coffee shop ngingetin aku untuk bersikap seperti makhluk sosial, sekaligus ngingetin aku untuk bersikap seperti lady. Bisa pura-pura lagi minum teh bareng Lady Mary.

Ketiga, coffee shop adalah tempat yang pas untuk “kabur” sejenak dari rumah. Kalau suasana hati sedang berada di titik yang kurang baik, maka cafe jadi sanctuary-ku yang bisa memberi ketenangan. Suasana yang tenang membantu untuk berfikir lebih jernih. And a shot of caffeine will give you the boost.

Gemana dengan kalian, suka ngumpul di coffee shop? Tell me the reasons.

image source: nataly

World War Z (2013)

I love movies, kubisa melahap semua genre, tapi ada beberapa yang jadi pengecualian.
Pertama, aku nggak suka film Zombie, I hate zombies, buatku mereka adalah makhluk paling menakutkan, menjijikkan, bodoh, menyebalkan, dan sialnya mereka mematikan. Kalau-kalau ada zombie apocalypse nanti, I’d rather shoot myself daripada jadi salah satu dari mereka. Kedua, aku nggak suka film perang. Kekerasannya, pengorbanannya, akibat yang ditimbulkan, terlalu banyak kesedihan dan kematian disana aku berasa nggak sanggup mencernanya.

Lalu datang World War Z.

wz

Awalnya aku sama sekali nggak tahu apa-apa tentang film ini, waktu lagi baca-baca rotten tomatoes tiba-tiba terlihatlah satu judul film, ada Brad Pitt disana dengan review diatas rata-rata. Aku senyum-senyum sendiri, puas bakalan dapat tontonan seru.
Eh ternyata World War Z adalah film tentang peperangan melawan Zombies. Well, dua genre film yang kuhindari bertemu di bawah bayang-bayang Brad Pitt. I clench my fist, I’ve to watch this. And I did.

Untunglah World War Z bukan film zombie biasa. World War Z mencoba untuk membawa genre zombie ke level yang lebih serius, sebagai wabah yang menyerang dunia, epic dengan skala global, aksi yang menegangkan, for me it’s an action movie. Menegangkan, semua scene penting (well, aku tetep tutup mata kalau zombi-nya keluar), music score-nya pas nggak berlebihan. Plot-nya mengalir jelas, adegan demi adegan tergarap baik.
World War Z mengejutkan, nggak bisa ditebak. Dari awal penonton dibuat bingung, ada apa ini sebenarnya? Lalu pelan-pelan mulai terkuaklah misterinya, tapi aku masih dibuat bertanya-tanya, akan dibawa kemana cerita ini nanti? Ku sibuk menebak-nebak, menciptakan teori sendiri. Lalu di akhir cerita saat Gerry mengungkapkan teori-nya, aku langsung Ahhh~~~~ gitu tho… *angguk-angguk senyum puas* ternyata nggak beda jauh ma teori-ku ^^;

Menurutku ini film pintar, mungkin agak sama seperti film “bencana akhir dunia” kebanyakan, tapi disini ada zombie yang agresif, bisa manjat dinding, loncat ke helicopter, dan larinya secepat Usain Bolt.
Horror, action, thriller, comedy tercampur jadi satu. Aku suka film ini. Lebih menggigit, hehe.
Menurut kabar yang beredar World War Z akan dibuat sequel-nya, bahkan mungkin menjadi trilogy. Kita tunggu saja kabar selanjutnya, yang jelas kalau nanti ada sequel-nya aku bakalan ada di deretan C kursi penonton ;)

Lalu apakah aku akan menonton film bergenre zombie yang lain? Hell no! World War Z pengecualian, nggak ada yang lain.

Rated: 4/5

Today’s Lunch: Sate Kambing Kutowinangun

Aku bukan pecinta daging kambing. Mengolah daging kambing gampang-gampang susah, kalau bukan ahli dalam memasak-nya daging kambing akan terasa alot dan beraroma tak sedap. Aku sering jadi korban T.T makanya sebisa mungkin menu daging kambing akan kuhindari.

Tapi ada satu warung sate kambing yang bisa membuatku jadi penikmat daging kambing. Warung sate ini letaknya di Kutowinangun, Jateng. Tepatnya di Jalan Raya Kutowinangun no.79. Jauh? memang. Aku biasanya mampir ke warung ini sebagai tempat singgah dalam perjalanan Jogja-Bandung. Tapi jarak-nya sepadan kok. Di warung ini aku bisa menikmati sate kambing dengan senyum mengembang di wajah.

Warung sederhana ini menyediakan sate kambing yang empuk dan beraroma sedap, hilang sudah bau kambing-nya. Sate disajikan di piring (tanpa tusuknya) dengan saus kacang, sambal dan kecap, ada irisan bawang merah dan tomat segar sebagai pelengkap. Yummy. Seporsi sate dengan nasi putih bisa habis kulahap.

Selain sate, warung ini juga menyediakan gulai kambing. Aku suka kuah-nya, nggak terlalu ‘berat’ dengan lemak. Tambahkan sambal kecap maka semakin mantap-lah gulai-nya.

Tapi ya itu, kalau habis makan sate kambing selalu timbul rasa bersalah, harus diet selama beberapa hari ke depan. Untung-nya warung sate ini jaraknya jauh dari rumah, jadi aku nggak bisa sering-sering berkunjung, hehe.

Thumbs Up: Sate kambing paling enak yang pernah kunikmati
Thumbs Down: Jauh, dengan jarak perjalanan 1,5 jam dari Jogja.
Rated: 4/5

Baca juga yang ini:

Happy L’Arc~en~Ciel Day \^o^/


Exactly a year ago, during L’Arc~en~Ciel WORLD TOUR 2012 final at Waikiki Shell in Honolulu Hawaii, the Mayor of Honolulu declared May 31st 2012 as “L’Arc~en~Ciel Day”, Mayor Calisle made the decision to show his appreciation for the band choosing Hawaii as the last stop of their world tour.

And so L’Arc fandom declared May 31st as International L’Arc~en~Ciel Day.

How I celebrate it? Hmm, I don’t know yet, but I’ve couple of things in mind:
1. Karaoke, sing all L’Arc songs, pouring my heart out trough those complicated lyrics, pretending that I’ve the voice.
2. DVDs Marathon. Watch the live, from indie to their latest performance. It’ll be great if I can ignore the tears flowing down my cheeks.
3. Order a cake with their face on it, and I’ll lick them one by one.
4. Staring at L’Arc poster all day, but I’m afraid at some point I’ll start throwing darts at them, hehe.
5. Write a fanfic about tetsuya on his high school days and how he created a boyband named ‘rainbow boys’.
6. Do everything above, and more.
7. Do nothing, I don’t think tetsu, ken, yuki, and hyde remember this event anyway.

Oh, I’ve one wish. Please dear Larukugami, please release one single this year, Onegai..

tetchangif credit

Sorry, no gakuhai for me

Akhir-akhir aku menghindari tumblr.
Terlalu banyak hyde di dashboard-ku. Selain aktivitas vamps yang semakin sibuk, fandom hyde juga diramaikan dengan berita persahabatan hyde dan gackt yang kembali memanas. Mereka berdua terlihat hadir di pesta pernikahan salah satu kolega, terlihat bahagia di foto. Satu foto dan fandom gakuhai kembali terbakar.

(No gakuhai pic here, lets have hyde instead)

Well, I’m not a gakuhai supporter, jadi aku nggak mau berkomentar banyak soal ini. Tapi ngomong-ngomong soal gakuhai, aku jadi inget fic-ku yang berjudul What is Love?. Chapter 7 bersetting di 2002, saat L’Arc vakum dan hyde membintangi Moon Child bersama gackt, di chapter ini aku menggambarkan bagaimana reaksi tetsuya terhadap kedekatan hyde dengan gackt.

Ini cuplikan chapter tersebut:
Continue reading

Where are you L’Arc?

So, aku baru aja meng-hiatus-kan L’Arc~en~Ciel Everyday.
L’Arceveryday sudah terabaikan sejak January, kupikir sebaiknya dihentikan saja. Well, tentu nggak permanent, hanya sementara sampai L’Arc kembali, sampai hati L’Arcku kembali.

Ah, semakin kesini rasanya semakin berat jadi fans L’Arc~en~Ciel. Aku cinta mereka tapi apa yang harus kulakukan sama rasa cinta ini kalau objek-nya aja nggak ada?

Aku tahu ini bukan salah L’Arc, mereka mungkin sedang dalam tahap galau/bosan/jenuh/bingung, nggak tahu lagi L’Arc mau diapain karena mereka sudah dapatkan semuanya. Aku ngerti itu, tapi ya tetep aja rasanya gundah gulana enek nggak karuan. L’Arc ada tapi nggak ada, aku seperti bergantung pada benang yang makin lama makin tipis, perlahan L’Arc seakan-akan lepas dari genggaman.


Kalau ada orang yang bisa disalahkan akan perasaan galau-ku ini, aku bakal tunjuk jari-ku ke hyde. Hyde dan band barunya. Aku tahu aku nggak bisa seenaknya menyalahkan hyde, but hey, aku manusia, adanya kambing hitam ngebuat hatiku lebih tenang. Dan ada hyde dengan segala ‘aktivitas’-nya yang menurutku pantas untuk disalahkan. Yeah, hyde’s fans will outlived me.

It’s just.. aku merasa hyde mengeluarkan segala kemampuannya yang terbaik untuk vamps. He’s a genius, brilliant and super talented, tapi saat ini hyde nggak memberi ‘kemampuan super’nya itu untuk L’Arc, and it hurts. Sedih tiap kali lihat hyde yang semakin bersinar berusaha keras untuk vamps, sedangkan sinar L’Arc seakan dibiarkan meredup. I hate it.

But that’s life. Nothing last forever. Aku harus belajar untuk menerima kenyataan bahwa masa-masa jaya L’Arc~en~Ciel sudah lewat. Aku bersama L’Arc saat masa puncak mereka, dan sekarang saat mereka sedang galau pun aku masih akan bersama mereka, karena aku punya kenangan indah dan karya hebat mereka, semoga itu cukup, well I do hope so.

hyde dengan vamps-nya, tetsuya dengan bisnis-nya, ken dengan hobi-nya, yukihiro dengan music-nya. If they’re happy, then good, just let them be. Aku hanya berharap mudah-mudahan tetchan, kenchan, haido dan yukkie nggak lupa bahwa mereka adalah member L’Arc~en~Ciel.